Perbankan Syariah Tetap Tumbuh Ditengah Krisis Ekonomi


Pangkalpinang (koranbabel.com) — Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), bersama Bank Indonesia (BI) Cabang Bangka Belitung mengadakan kegiatan bertema “Ekonomi Syariah Dalam Menjawab Tantangan Ekonomi Global”, Senin (12/10) di Hotel Soll Marina, Pangkalan Baru, Bangka Tengah.

Berdasarkan data Bank Indonesia, Kepala Bank Indonesia Cabang Bangka Belitung Bayu Martanto mengatakan ekonomi syariah mengalami kemajuan signifikan dalam 10 tahun terakhir. Pertumbuhan pesat industri perbankan Syariah inilah yang diharapkan dapat menunjukkan kontribusi positif untuk perekonomian nasional.

“Tahun 2015 ini merupakan masa yang cukup berat untuk Indonesia karena tekanan eksternal dirasakan, dollar masih menebus Rp.14,000/U$$ sehingga meningkatkan harga produk impor yang tentunya berdampak pada kenaikan harga barang yang komponennya berbahan baku impor,” ungkapnya.

Indikator Ekonomi Makro secara nasional menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II pada kisaran 4,67 persen dengan tingkat inflasi September 2015 sebesar 6,83 persen (year on year).

“Namun sekalipun dalam kondisi demikian, perbankan Syariah secara Nasional masih dapat menunjukkan kestabilan. Sampai dengan Juli 2015 pembiayaan perbankan syariah tercatat sebesar Rp 263,1 triliun dan dana dari pihak ketiga Rp.233,4 triliun atau masing-masing mengalami kenaikan 0,15 persen dan 0,32 persen dibandingkan posisi akhir tahun 2014. Sementara itu financing to deposit ratio tercatat cukup tinggi yaitu sebesar 112,72 persen,” tambah Bayu.

Sementara dalam skala lokal, secara tahunan capaian inflasi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hingga September 2015 sebesar 7,33 persen (yoy) lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional. Inflasi Bangka Belitung dihitung berdasarkan dua kota penyumbang inflasi yaitu Kota Pangkalpinang 7,46 persen (yoy) dan Kota Tanjung pandan 7,11 persen (yoy).

Sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional, kondisi perekonomian Provinsi Bangka Belitung saat ini juga sedang menghadapi tantangan. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan pada triwulan II 2015tercatat Rp.11,451 miliar atau hanya tumbuh sebesar 3,93 persen (yoy) melambat dari pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 4,11 persen (yoy). Pertumbuhan pada triwulan ini merupakan pertumbuhan tahunan terendah sejak tahun 2010.

“Ditengah kondisi perlambatan ekonomi data statistis perbankan syariah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik yaitu pada Agustus 2015 penyaluran dana tercatat sebesar Rp.280 miliar dan dana pihak ketiga Rp.277 miliar atau masing-masing mengalami pertumbuhan 11,6 persen dan 22,7 persen,” terangnya.

 

Minim Nasabah

Namun Ketua Pusat Ekonomi Syariah, Halim Alamsyah menyatakan pendapat dari sisi yang berbeda. Tak menampik setelah disahkan UU Perbankan Syariah oleh pemerintah mengakibatkan pertumbuhan industri bank syariah melesat dari 1.000 kantor menjadi 2.500 kantor. Namun menurutnya sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim mayoritas kepemilikan tabungan di perbankan syariah masih tergolong minim.

Tercatat di Indonesia hanya ada 14,8 juta rekening tertinggal jauh dengan bank umum konvensional yang memiliki 38 juta rekening.Selain itu produk perbankan syariah masih didominasi oleh Murabahah (jual-beli barang konsumtif).

“Kita melihat lama kelaman industri perbankan syariah kalah saing. Bagi hasil kecenderungan lebih tinggi tinggi daripada bank konvensional. Namun sejak (Bank konvensional) menaikkan suku bunga depoasito tabungan, secara berbondong orang memindahkan penanamannya ke bank umum konvensional,” ungkapnya. (Pros.Adv/dhi)

The post Perbankan Syariah Tetap Tumbuh Ditengah Krisis Ekonomi appeared first on KORAN BABEL.

Previous
Next Post »
Thanks for your comment